Piala Dunia 1962

Pemilihan Cile sebagai tuan rumah Piala Dunia 1962 sempat membuat sebagian besar anggota tim peserta mengangkat alis. Pasalnya, situasi politik negara kecil di kaki gunung Andes tersebut tengah bergolak, juga tak memiliki stadion, jalan, ataupun fasilitas yang layak untuk menggelar turnamen sekelas Piala Dunia.

Sebanyak 47 negara ikut ambil bagian di babak kualifikasi meski kemudian lima negara–Mesir, Indonesia, Kanada, Sudan, dan Rumania–menolak ikut serta. Kejutan terjadi setelah Prancis dan Swedia gagal lolos.

Campeonate Mundial de Futbol 1962 tercatat sebagai Piala Dunia paling berdarah. Di grup 1, pemain Uni Soviet, Edouard Dubinsky, mengalami patah kaki, sementara Slava Metreveli dipukul di wajah saat bertemu dengan Yugoslavia. Soviet menang 2-0 meski kehilangan dua pemain kuncinya.

Di grup 2, partai Italia dan tuan rumah Cile berubah jadi arena perkelahian. Dalam partai yang dijuluki The Battle of Santiago itu, dua pemain Italia diusir wasit dan polisi terpaksa turun tangan menengahi pemain yang baku hantam di tengah lapangan.

Pele–bintang Brasil–juga jadi korban di grup 3. Ia hanya bermain dua kali.

Brasil baru saja berganti pelatih dari Vicente Feola ke Aimore Moreira. Moreira membuat kejutan dengan mengubah formasi tradisional tim Samba yang 4-2-4 menjadi 4-3-3 dengan menempatkan Mario Zagallo sebagai jenderal lapangan tengah.

Perjalanan Brasil tidaklah semulus yang diperkirakan. Menekuk Meksiko 2-0 di pertandingan pertama, Brasil harus kehilangan Pele yang cedera otot saat ditahan imbang Cekoslovakia 0-0. Beruntung, meski tanpa Pele, Brasil masih memiliki Garrincha, Vava, Didi, Gilmar, dan Zagallo. Menang tipis atas Spanyol (2-1) di partai terakhir, Brasil lolos.

Di perempat final, Selecao bertemu dengan runner-up grup 4, Inggris. Diperkuat Bobby Charlton, Johnny Haynes, Bryan Douglas, Jimmy Greaves, dan Gerry Hitchens, Inggris tak mampu berbuat banyak menahan dua gol Garrincha serta Vava yang memberikan kemenangan 3-1 bagi Brasil.

Hasil lainnya, Cile menundukkan Uni Soviet 2-1, Cekoslovakia menang atas Hungaria 1-0 dan Yugoslavia unggul 1-0 atas Jerman Barat.

Partai semifinal bisa dikatakan sebagai partai Eropa-Eropa melawan Amerika Selatan-Amerika Selatan.
Di Stadion Nacional, Brasil menghadapi Cile dan unggul 2-1 saat turun minum berkat dua gol Garrincha. Di babak kedua, Cile mencoba mengejar lewat penalti Leonel Sanchez, tapi dua gol dari Vava mengakhiri perlawanan tuan rumah (4-2). Lawan Brasil di final, Cekoslovakia, secara mengejutkan menundukkan Yugoslavia 3-1.

Menjelang final, Brasil bertanya-tanya apakah Garrincha boleh diturunkan menyusul kartu merah yang diterima di semifinal. Keputusan FIFA untuk memperbolehkan Mane–sapaan Garrincha–dibalas dengan penampilan gemilang.
Meski tertinggal lebih dulu setelah Josef Masopust mencetak gol pada menit ke-15, Brasil menyamakan skor lewat Amarildo dua menit kemudian.

Duet Garrincha dan Mario Zagallo tak tertahankan di babak kedua. Gawang Schroiff dibobol dua kali lewat gol Zito dan Vava.

Brasil pun menjadi tim ketiga–setelah Uruguay dan Italia–yang merebut trofi Jules Rimet dua kali.

sumber:tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: